Kita semua tentu tahu orang Jepang melepas sepatu di rumah. Kalau masuk rumah, mereka mengganti alas kaki dari sepatu menjadi sendal. Kebiasaan melepas sepatu di dalam rumah pun biasa bagi orang Indonesia. Saya malah sering bertelanjang kaki di rumah. Akibatnya harus sering-sering cuci kaki, apalagi sebelum tidur.
Orang Jepang memiliki adat umum untuk melepas sepatu dan menggunakan sendal di dalam ruangan, kecuali ruangan itu berlantaikan marmer atau keramik. Di tempat kerja saya pun begitu. Sepatu dilepas, tetapi kaus kaki tetap digunakan; tidak peduli musim dingin atau musim panas. Kaki tidak sepantasnya telanjang. Saya pernah menemani rekan kerja saya yang orang Jepang untuk makan siang bersama orang Jepang lain di sebuah restoran Jepang di Jakarta. Salah seorang berkata, “Waduh, saya tidak pakai stocking!” Yang lain lalu mengatakan, “Wah saya juga.” “Gimana dong nih?” kata yang pertama, “Ya sudah lah… mudah-mudahan mereka engga perhatikan.”
Adanya kebiasaan ini berarti kita harus menjaga agar kaus kaki yang kita kenakan tidak kotor, tidak bau, dan tidak robek. Apalagi kalau kita bertamu ke kantor atau ke rumah orang lain. Saat kita melepas sepatu dan menggunakan sendal yang disediakan si tuan rumah, besar kemungkinan si tuan rumah ada di dekat kita. Dan bisa jadi Ia memperhatikan kaus kaki kita. Bayangkan kalau kaus kaki kita kotor atau robek. Apalagi kalau bau! Seorang Prancis yang magang selama dua bulan di kantor saya mengatakan setiap hari Ia harus selalu memperhatikan socks integrity yang akan Ia kenakan. Tampaknya ini adalah gegar budaya bagi dirinya.
Kaus kaki bukanlah barang mahal (kecuali bila anda suka barang bermerek, tentunya). Saya biasa membeli kaus kaki yang murah saja: seribu Yen untuk tiga pasang atau empat pasang. Yang penting adalah agar kaus kaki yang saya kenakan tidak menjadi sumber perhatian orang.
Di Jepang, menjaga socks integrity lebih penting daripada menjaga underwear integrity. Lha, menjaga integritas pribadi bagaimana dong?