Sunrise above the Pacific OceanFruit WafflePancakePlaying ChessBridge No 2Temaram Lampu di Taman

Archive for July, 2006

Jangan kurs-kan?

Konon salah satu resep orang Indonesia supaya bisa tidak merasa terlalu perih di kantong saat berada di luar negeri adalah jangan meng-kurs-kan barang belanjaan. Kaos seharga 50 dolar Amerika, ya 50 dolar Amerika. Jangan kurs-kan rupiah supaya jelas bahwa harga kaos itu hampir 500 ribu rupiah. Toh 50 dolar itu tidak sebanding dengan ongkos perjalanan dan biaya penginapan. Jadi, kenapa merasa bersalah?

Dulu saya biasa tidak meng-kurs-kan, tetapi beberapa tahun terakhir ini saya biasa mehitung kurs harga barang belanjaan di luar negeri, terutama di Indonesia. Hal ini mengingat harga-harga barang di Indonesia yang semakin mahal saja. Jadi saya selalu berpikir apa untungnya membeli barang tersebut di Indonesia. Contohnya, bila kita menemukan kemeja di mal-mal Indonesia dengan harga berkisar 200-300 ribu rupiah, di Jepang pun kita bisa menemukan kemeja dengan harga kurang lebih sama dengan kualitas yang barangkali sama pula. Begitu pula dengan harga barang-barang lainnya. Yang Indonesia hadapi di era sekarang adalah globalisasi harga, lokalisasi gaji. Harga-harga barang naik menjadi setara dengan harga-harga di negara lain, sementara gaji segitu-segitu saja. Jadi, saya memilih untuk meng-kurs-kan dan lalu memutuskan apakah nilai barang yang saya dapat setara dengan yang saya bayar.

Comments (4)

Orang Paling Keren

Karena belakangan ini banyak orang yang mengaku sebagai orang paling keren. Maka sudah seharusnya ada sertifikasi orang paling keren yang diakui secara internasional. Karena pengakuan sebagai orang paling keren itu harus berasal dari orang lain, bukan sekedar diri sendiri mengklaim sebagai orang paling keren. Mengaku sebagai orang paling keren tanpa adanya pengakuan dari orang lain bahwa dirinya adalah orang paling keren adalah hal yang absurd bin aneh. Jadi kita perlu memperkenalkan sertifikasi sebagai orang paling keren lengkap dengan proses sertifikasi, yang jika perlu harus setara dengan sertifikasi ISO seri 9000 atau 14000. Barangkali perlu ada yang mengusulkan untuk membuat sertifikasi seri 68000 agar orang paling keren memperoleh pengakuan yang sah dari dunia.

Sekaitan dengan orang paling keren, maka kita juga harus menyinggung kontes kecantikan wanita sejagad Miss Universe yang hanya diikuti oleh manusia-manusia saja. Peserta kontes kecantikan wanita sejagad ini sangat bias, karena pesertanya adalah manusia, dan para jurinya juga manusia. Bagaimana dengan kupu-kupu betina yang lucu atau bidadari-bidadari yang cantik? Kontes kecantikan wanita sejagad ini juga menggunakan bahasa Inggris, yang seperti tertulis di novel Angels and Demons karangan Dan Brown adalah bahasa universal. Ketika Nadine Chandrawinata sebagai peserta kontes kecantikan wanita sejagad tidak fasih dalam bahasa Inggris yang notabene adalah bahasa sejagad, maka sebagian dari kita orang Indonesia turut berkomentar tentang kurang menjagadnya peserta kontes kecantikan wanita sejagad dari Indonesia ini.

Tetapi apakah kemampuan berbahasa universal itu menjadi faktor yang turut menentukan kecantikan atau ke-orang paling keren-an? Pada kenyataannya, kecantikan dan kemampuan bahasa Inggris terletak pada axis yang ortogonal, jadi skalar kecantikan seseorang tentunya tidak akan berubah dengan kemampuannya berbahasa Inggris. Contohnya adalah Marlee Matlin, aktris yang tuna rungu dan tidak bisa mengartikulasikan suara dengan baik. Tetapi kecantikannya tidak berkurang dengan tuna rungunya itu, karena cantik dan tuna rungu berada pada axis yang ortogonal.

Kesimpulan dari semuanya ini adalah, orang paling keren, kecantikan, bahasa Inggris, dan tuna rungu, bukanlah hal yang penting-penting amat. Dan bila Anda sekarang sedang di Singapura, kembangkan payung Anda. Sekarang sedang hujan.

Comments (6)

Makassar Nol Kilometer

Saat kembali dari Indonesia bulan lalu, saya membawa buku Makassar Nol Kilometer yang diterbitkan oleh Media Kajian Sulawesi bekerjasama dengan Penerbit Ininnawa. Buku ini sebenarnya sudah saya beli bulan Maret lalu atas bantuan Rara, tetapi saya baru bisa ke Indonesia lagi bulan lalu. Buku ini adalah kumpulan tulisan-tulisan pendek yang bercerita tentang kota Makassar dari berbagai sudut pandang.

Melalui buku ini, saya bisa mendapatkan gambaran kasar kota yang dulu saya tinggali sampai tahun Agustus 1982. Saya baru datang ke Makassar dua kali sejak pindah dari kota itu. Pertama di tahun 2002 untuk urusan pekerjaan dan kedua di tahun 2005 guna menghadiri akad nikah kakak. Praktis saya tidak lagi mengenal kota ini. Yang ada hanyalah kenangan masa kecil, misalnya bermain di halaman rumah Jl. Bungaya 45A, mobil VW kodok putih, dan tiang listrik di dekat tembok samping rumah yang sering saya gunakan untuk kabur main ke rumah teman di siang hari.

Karebosi, Pantai Losari, Pasar Cidu, … kata-kata ini membangkitkan kenangan. Tetapi itu hanya kenangan. Coba baca bagian kuliner di buku ini. Sop Saudara, coto makassar, jalangkote, pisang epe. Kata-kata ini membuat air liurku terbit. Nikmatnya sop saudara… coto makassar yang membuat berkeringat… pisang epe yang dihidangkan panas dengan air gula merah dan duren. Wah, gawat! Ingin ke Makassar lagi! Mudah-mudahan ada rejeki buat berburu makanan enak di sana.

Comments (1)