Jangan kurs-kan?
Konon salah satu resep orang Indonesia supaya bisa tidak merasa terlalu perih di kantong saat berada di luar negeri adalah jangan meng-kurs-kan barang belanjaan. Kaos seharga 50 dolar Amerika, ya 50 dolar Amerika. Jangan kurs-kan rupiah supaya jelas bahwa harga kaos itu hampir 500 ribu rupiah. Toh 50 dolar itu tidak sebanding dengan ongkos perjalanan dan biaya penginapan. Jadi, kenapa merasa bersalah?
Dulu saya biasa tidak meng-kurs-kan, tetapi beberapa tahun terakhir ini saya biasa mehitung kurs harga barang belanjaan di luar negeri, terutama di Indonesia. Hal ini mengingat harga-harga barang di Indonesia yang semakin mahal saja. Jadi saya selalu berpikir apa untungnya membeli barang tersebut di Indonesia. Contohnya, bila kita menemukan kemeja di mal-mal Indonesia dengan harga berkisar 200-300 ribu rupiah, di Jepang pun kita bisa menemukan kemeja dengan harga kurang lebih sama dengan kualitas yang barangkali sama pula. Begitu pula dengan harga barang-barang lainnya. Yang Indonesia hadapi di era sekarang adalah globalisasi harga, lokalisasi gaji. Harga-harga barang naik menjadi setara dengan harga-harga di negara lain, sementara gaji segitu-segitu saja. Jadi, saya memilih untuk meng-kurs-kan dan lalu memutuskan apakah nilai barang yang saya dapat setara dengan yang saya bayar.







