Hari Selasa dan Rabu ini saya mengikuti seminar Technology Entrepreneurship Education: Theory to Practice yang diselenggarakan bersama oleh Intel dan UC Berkeley yang bertujuan untuk membantu organisasi pendidikan untuk mengembangkan program kewirausahaan. Seminar ini memperkenalkan bagaimana Berkeley melakukan pendidikan kewirausahaan yang berbasis teknologi, di mana Berkeley mengusung tema sentral ekosistem kewirausahaan. Ekosistem kewirausahaan adalah piramida lima tingkat yang (berturut-turut dari bawah ke atas) terdiri dari pekerja berpengetahuan (knowledge workers), teknologi yang unik, lingkungan yang positif, modal yang sesuai, dan pasar global. Dalam ekosistem ini terdapat aspek-aspek teknologi, pendidikan, dan kewirausahaan yang saling tumpang tindih; di mana pendidikan kewirausahaan mengambil peran dalam menciptakan lingkungan yang positif.
Kewirausahaan, sebagaimana didefinisikan dalam seminar ini, adalah praktik memulai perusahaan-perusahaan baru. Sementara itu, seorang wirausaha adalah seseorang yang memulai sebuah perusahaan. Kewirausahaan terdiri dari dua proses, yaitu mengidentifikasi peluang (kebutuhan, solusi, dan kelebihan) dan memperoleh sumber daya (hak pemanfaatan teknologi, manusia, dan uang). Tugas seorang wirausaha adalah menggerakkan ketiga sumber daya tersebut.
Setelah menerima penjelasan mengenai beberapa definisi dasar di atas, para peserta belajar mengidentifikasi peluang. Para peserta dibagi menjadi kelompok 3-4 orang dan ditugaskan untuk berperan sebagai pemodal ventura yang membaca 10 ringkasan eksekutif rencana-rencana usaha, lalu memilih pemenang pertama, kedua, dan ketiga. Sembilan dari ringkasan eksekutif tersebut tentang memasarkan teknologi baru.
Hampir semua peserta tidak mempunyai kerangka berpikir bagaimana mengidentifikasi peluang. Kriteria apa yang harus kami gunakan untuk memilih pemenang? Setelah berdiskusi, kami sepakat untuk memperhatikan tiga hal: SDM, HAKI, dan produk serta pasar. Apakah kami terkesan dengan SDM? Apakah mereka telah memperoleh HAKI atas teknologi untuk produk usaha tersebut? Bagaimana pasar yang akan dimasuki usaha tersebut? Waktu untuk memilih sangat terbatas, demikian pula pengetahuan yang kami miliki terkait ringkasan-ringkasan eksekutif tersebut. Singkatnya, kami harus membuat keputusan di tengah kurangnya informasi dan tingkat ketidakpastian yang tinggi. Inilah yang harus selalu dilakukan oleh para wirausaha.
Setelah menjalani proses ini, barulah kami diberi penjelasan tentang kerangka berpikir untuk melihat apakah sebuah peluang memiliki potensi yang besar atau tidak: pasar, laba, persaingan, manajemen, kelemahan fatal dalam rencana. Sebuah peluang bagi seseorang belum tentu merupakan peluang bagi orang lain karena tergantung dari orang, sumber daya, dan konteks. Kami juga diberi beberapa studi kasus, seperti kasus saat perusahaan baru mulai kekurangan dana, dan juga saat direktur utama perusahaan baru harus memilih strategi baru apa yang akan dipilih perusahaan.
Yang paling menarik perhatian bagi saya dalam seminar ini adalah konsep Infrastructural Community, yaitu konsep masyarakat sebagai prasarana tumbuhnya wirausaha-wirausaha profesional. Inilah prinsip dasar menurut John Freeman yang menjadi kunci sukses kewirausahaan di Silicon Valley. Di Silicon Valley, para pemodal ventura selain bersedia memberikan modal, mereka juga memperkenalkan para wirausaha dengan profesional-profesional lain seperti bankir, pengacara, akuntan, head hunter, dan bahkan kepada calon pelanggan potensial. Pengacara juga bersedia memperkenalkan si wirausaha dengan pemodal ventura, dst. Mereka melakukan hal ini karena adanya rasa percaya yang berasal dari hubungan bisnis di antara mereka. Misalnya seorang pemodal ventura mengatakan bahwa bila si wirausaha ingin mendapat modal darinya, si wirausaha harus menggunakan jasa akuntan tertentu. Atau mereka mengatakan yang penting bukan menggunakan pengacara tertentu, karena pernah ada masalah hubungan bisnis dengan pengacara tersebut di masa lalu. Jejaring ini lah yang memudahkan seorang wirausaha membangun perusahaan-perusahaan baru.
Indonesia tentu memiliki model Infrastructural Community yang khas untuk negara ini. Yang menghubungkan jejaring tersebut bisa jadi adalah hubungan kekeluargaan, atau kongsi di antara masyarakat tertentu. Saya tidak punya pengetahuan dalam bidang ini. Pertanyaan besar yang ada di kepala saya sekarang adalah: bagaimana merekayasa masyarakat Indonesia agar bisa menjadi prasarana yang lebih baik dalam membangun ekosistem kewirausahaan, terlebih lagi yang berbasis teknologi? Akan sulit sekali meniru Silicon Valley, tetapi saya yakin tentu ada cara yang khas Indonesia untuk membangun ekosistem ini.
NB: Ada yang bersedia menjadi sponsor untuk mengundang profesor-profesor dari UCB datang ke Indonesia untuk memberikan seminar yang sama? Kalau ada, saya akan juga berusaha yakinkan mereka untuk datang ke Indonesia. Mereka sekarang tengah fokus menyampaikan seminar di Eropa, sementara di Asia baru empat kali: dua kali di India, sekali di Cina, dan sekali di Jepang.